Day 6: Single and Happy
Saya tidak mau jadi profokator dan ngeyel kalau sendiri itu menyenangkan. Tentu saja, jika berdua tidak membuatmu merasa menjadi manusia lebih baik, memang lebih baik sendiri. Tapi, jika sendiri menjadikanmu mati ditikam rasa bosan, akan lebih bijak jika memiliki pasangan. Semua perkara sudut pandang dan yang menjalani. Tidak ada yang berdosa dengan memilih sendiri, atau menjadi sepasang dengan lawan jenisnya.
Namun, bagi saya, sendiri tak melulu identik dengan sesuatu yang buruk, manusia aneh, dan sok mandiri. Sendiri bukan perkara tidak laku, dikucilkan, atau pun miskin kawan. Sendiri dulu, itu pilihan. Sebab ketika sendiri sekalipun saya pernah merasa begitu bising. Bahkan, sebaliknya di tengah suasana ramai sekalipun saya pernah merasa sunyi— sepi yang tak terdeskripsi.
Bukankah orang introvert akan selalu lebih nyaman bila sendiri? Maka, jangan suka mengkotak-kotakan apa yang menjadi pilihan orang lain. Kesendirian atau pun memilih sendiri dulu adalah seperti tanah lapang. Saya bisa bermain layan-layang bersama kawan, atau bisa menggelar pertandingan sepak bola dengan lawan. Sendiri tak pernah menjadi pemilah dan pemilih antara kawan dan lawan untuk dijamu dalam sepinya.
Suatu ketika di tanah yang amat lapang, dengan segala macam manusia yang pernah singgah, kenal, dan berteman, kita bisa juga membangun rumah, bukan?
Sendiri kadang perihal kesiapan akan segala kemungkinan oleh yang melakoni, yang kadang malah dinilai banyak asumsi buruk oleh orang yang memandang. Memang, kita selalu suka mendengar apa yang ingin kita dengar, dan melihat apa yang ingin kita lihat. Kalau saya, asumsi orang bukan bom atau pun senjata tajam yang bisa meruntuhkan pilihan hidup saya, bahkan perihal sendiri dulu.
Sendiri versi saya bukan sepi yang berisi sunyi, dan berujung ekspektasi yang tak dinikmati. Sekali waktu sendiri adalah cara bertahan saat luka bertubi tak bisa berhenti menghampiri. Saat kawan bercerita hanya bisa menjadi pencerita berikutnya kepada orang lain dengan banyak bumbu. Sendiri malah kadang adalah cara terbaik untuk bercerita dan berdiskusi dengan sosok diri sendiri. Sebab sendiri pernah diam-diam menjadi obat yang membantu saya menemukan kembali pikiran waras.
Sendiri mengelilingi sudut kota Malang dan Labuan Bajo, pernah saya lakukan. Seorang diri melancong ke Gersik, Surabaya, dan Jakarta adalah hal paling menyenangkan yang pernah saya coba juga. Bukti, jika kesenangan dan kegembiraan tergantung kita sendiri, bukan tercipta ketika kita sedang bersama siapa.
Percaya saja jika sendiri adalah keputusanmu sendiri, maka besok akan ada kesendirian lainnya yang menemani. Bahkan yang sudah menjadi sepasang dengan melewati banyak hari dan badai saja, kadang dalam hati kecilnya merindukan kesendirian kembali.
Komentar
Posting Komentar