Day 7: Favorite Movie

 Ketika ditawari antara menonton sebuah film yang diadaptasi dari novel, atau membaca sebuah novel yang telah difilmkan, maka saya akan memilih opsi yang kedua. Sebetulnya, saya lebih suka membaca sebuah cerita daripada menonton sebuah adegan. Saya pun sering berujar, “Ah, filmnya biasa saja. Padahal, novelnya pas dibaca sangat seru, bagus, menarik!” Film Ayat-ayat Cinta misalnya, Harry Potter, Surat Kecil untuk Tuhan, tetralogi Laskar Pelangi, Revan & Reina, Dear Nathan, dan beberapa film lainnya yang diadaptasi dari novel. Saya masih sangat enggan menonton filmnya, jika sudah membaca novelnya. Lagi pula membaca novel daring tanpa bersusah payah membeli  buku secara fisik pun sudah sangat gampang sekarang.

Tetapi, saya ingat satu film Hollywood yang pernah saya tonton di tahun 2016— sembilan tahun kemudian setelah dirilis. Sebuah film yang pernah direkomendasikan oleh kawan saya bernama Adi— seorang idealis yang karena ke-idelaismeannya ia telah gagal berkali-kali mendaftar menjadi seorang polisi. Yang berakhir menjadi vokalis band indi, Oddwain. Jangan lupa cek kanal youtube dan IG si Oddwain, ya! ^_^ Siap tahu kamu kepincut sama dia atau paling tidak lagunya.hehe

Film biografi drama petualang yang pernah membikin saya menangis tersedu adalah Into The Wild yang diadaptasi dari buku karya Jon Krakauer. Sepemikiran saya, film bergenre biografi lebih banyak membosankannya. Saya sempat iya-iya saja sewaktu disarankan menonton film yang katanya cocok buat orang yang keras kepala pada mimpinya. Seorang Christhopher Mc Candlles pun berhasil menarasikan sebuah cerita yang berbeda dari pemikiran saya soal film biografi. Ada satu kalimat yang membekas sampai hari ini, “Happiness only real when sahred” bahwa kebahagian sejati bisa ditemukan saat berbagi dengan orang lain.

Plot adegan kilas balik dan adegan masa yang berselang seling antara sisa hidup Chris dan petualangannya menuju Alaska selama dua tahun dengan menghuni bis rongsok The Magic Bus, juga kerelaannya menyumbangkan semua tabungannya, membakar semua kartu kreditnya, semua tindakan dan pemikiran seorang Chris-lah yang bikin air mata saya tidak terhenti. Saya bersusah payah mencari kenyamanan hidup, sedangkan Si Chris malah membuang segala fasilitas hidup dan pekerjaan yang luar biasa dengan penuh kesadaran. Ia seperti tak ingin bersikap naif, dan keluar dari zona nyaman adalah hal yang menurutnya paling bisa memberinya kenyamanan. 

Akhir cerita seorang Chris menjadi abu, usai ditemukan dua minggu setelah meninggal oleh seorang pemuru rusa adalah film paling inspiratif dan relate dengan saya. Bahwa kehidupan tidak selalu diukur dengan kekuatan, sebab kehidupan bukan arena mengadu ketangguhan. Melainkan, kita cuma butuh keberanian untuk menjalani hidup, menjalani segala petualangan entah sesulit apa pun hidup ini untuk diajak berkompromi.

Coba nonton, ya! Barangkali, kamu ada di situasi gamang, circle pertemanan ala among us, dan segala keterburuanmu mengejar kenyamanan hidup, pasti kamu akan menemukan sesuatu di film ini. Sampai hari ini, cerita dan adegan film ini masih lekat di benak saya. Belum ada film yang bisa saya ingat, sebaik mengingat cerita Christhopher Mc Candlles ini. 

 

Komentar