Day 5: Your Parents
Lahir dari keluarga pluralisme, membuat saya sadar bahwa apa-apa yang berkaitan dengan keyakinan memanglah mustahil dipaksa. Sebagaimana saya tetap memaklumi Bapak yang masih menyimpan salibnya di bawah tumpukan pakaiannya di dalam lemari. Ya, Bapak memang lahir dari keluarga non muslim yang akhirnya menjadi muslim setelah mengenal dan menikah dengan Ibu. Salah satu dari banyak hal yang patut saya syukuri, bahwa toleransi tumbuh dengan baik di dalam keluarga yang selalu mengajarkan Hanacaraka sama pentingnya dengan Abata.
Orangtua, Bapak dan Ibu, sesuatu yang tak akan habis saya tulis dan ceritakan. Hal yang masih sulit saya deskripsikan dengan sebaik mungkin. Terima kasih sudah bersedia menjadi orangtua dari anak yang tak berguna seperti saya. Hal terbaik dan satunya yang saya miliki saat dunia berpaling dan menolak untuk digenggam.
Bapak,
Bagi saya petani kopi paling andal. Tak penting seberapa banyak hasil dari panen yang dia olah, yang jelas saya melihat perjuangan luar biasa yang belum saya ketemukan selain pada dirinya. Jika saja ada satu dari setiap inginnya yang bisa saya turuti, maka saya akan melakukannya. Terima kasih untuk Bapak yang selalu dikatain oleh Ibu jika sosoknya sangat kaku dan keras kepala, yang selalu diiyakan, dan saya menirunya. Sebab sekali waktu kekeraskepalaan itu diperlukan untuk melawan apa yang patut kita perjuangkan.
Ibu,
Dunia boleh sakit, asalkan jangan Ibu. Sosok yang sudah lebih dahulu terbangun saat yang lainnya masih lelap dalam mimpi, yang masih terjaga saat anggota keluarga yang lain sudah merajut mimpinya jauh di dalam tidurnya. Terima kasih masih menganggap saya yang terbaik saat semua orang mengutuk dengan segala keburukan. Seperti kata Bapak, bahwa Ibu sangat cerewet, dia pun menyadarinya, dan saya pun berujung menjadi sosok sepertinya. Saya kira, cerewetnya Ibu akan saya tiru untuk memukul rata apa-apa yang memang harus dilawan dengan berkata-kata.
Bapak dan Ibu, tameng terakhir usai berperang melawan kehidupan, yang dalam benak selalu terbayang kekalahan dan dipecundangi kehidupan, ada Bapak dan Ibu yang jadi pagar besi paling kuat melawan molotov ketakutan dan kekhawatiran saya. Karena Bapak dan Ibu pula saya tau dan bisa meniru cara bertahan hidup mesti seperti apa.
Sekali lagi, terima kasih untuk tetap menganggap saya berguna, sudi menampung saya sebagai pendosa yang sering kali menyakiti kalian tanpa segera membalas budi, tapi tetap kalian sayangi.
Komentar
Posting Komentar