Day 3: A Memory

Dari sekian banyak waktu yang pernah dilalui hingga tanpa sadar sudah setua hari ini, setiap kita pasti punya satu atau bahkan lebih momen terbaik dalam hidup yang sering kali menyelamatkan kita saat jatuh dan hendak menyerah.

Saya pun demikian. Pernah ada satu momen yang mungkin tidak akan pernah luntur dari ingatan, entah setua apa pun diri ini kelak. Ini perihal menulis. Hal yang tak pernah sekali pun terduga untuk menjadi bagian dari hidup yang akhirnya saya hampiri dan sukai. Memang, dulu sewaktu SMP puisi saya pernah dipajang oleh Guru Bahasa Indonesia di mading sekolah. Sewaktu SMA puisi saya pernah juga satu kali nongol di salah satu halaman majalah sekolah. Bukan sesuatu yang menajubkan untuk dipamerkan, namun juga bukan hal yang miris untuk diketahui oleh orang lain yang lebih lihai di dunia literasi. Saya sadar dan tak pernah sekali pun terpikir untuk menulis lagi sebab semua itu cuma kebetulan, keberuntungan,  dan hasil dari keisengan belaka. Sebab saya pun memang lebih suka menjadi pembaca ketimbang menulis.

Saya ingat, dahulu sewaktu SMA teman sekamar indikos saya bernama Erni adalah seorang cerpenis yang andal di mata saya. Dan saya adalah pembaca setia tulisannya— tulisan tangan. Setiap kali ia meminjam novel dari kawan satu kelasnya, saya pun akan ikut meminjam darinya. Saya ingat bacaan kami waktu itu seputar novel horor Bangku Kosong dan Hantu Jeruk Purut, lalu ada Surat Kecil untuk Tuhan, dan tetralogi Laskar Pelangi— yang hingga hari ini authornya adalah salah satu orang yang bikin saya ingin terus menulis— dan beberapa novel yang sudah tak saya ingat lagi judulnya.

Nah, momen terbaik kenapa saya akhirnya jatuh pada hobi menulis adalah saat saya menjadi peserta di sekolah Demokrasi Manggarai Barat, Flores di tahun 2013. Masih lekat kenangan saat seorang dosen Unwira Kupang bernama Pak Urbanus menegur tulisan saya— sebuah tulisan yang entah apa judulnya sebab saya pun sudah lupa dengan tulisan ala kadar dan bisanya saya itu, yang menjadi salah satu syarat masuk sekolah Demos. Katanya, tulisan saya yang pernah dibaca oleh beliau sangat sederhana tapi menggambarkan tujuan yang jelas, tidak berbelit-belit dengan bahasa yang susah dipahami seperti peserta lainnya yang malah notabennya seorang sarjana.

Betapa rasa minder saya terkikis jauh dari benak saat beliau mengutarakan dengan blak-blakan di hadapan peserta lain yang usianya jauh lebih tua dari saya. Sewaktu itu saya adalah peserta termuda dengan usia 19 tahun, sekaligus salah satu dari dua peserta yang cuma lulusan SMA. Berkumpul dengan banyak sosok yang lebih berpendidikan dan lebih tua dari saya dalam benak cuma ditumbuhi rasa bodoh dan minder yang tak berkesudahan. Namun Pak Urbanus yang kini saya anggap bapak, sahabat, dan kerabat saya adalah utusan Tuhan untuk melarang saya merasa tak menjadi berguna.

Perkataan singkat dan terdengar temeh di telinga orang lain itu menjelma suatu hal yang tak bisa saya definisikan dengan mudah di dalam telinga saya, sebelum akhirnya menjadi momen terbaik yang selalu saya kunjungi saat saya gagal dan ditolak berkali-kali dalam lomba literasi, saat saya merasa tak pernah menjadi berguna, saat saya jatuh pada pikiran-pikiran rumit soal ketidak-beruntungan hidup, dan saat saya tau cara mengejar harta orang lain yang sangat mustahil saya kejar adalah menghajarnya dengan karya—

Oh iya, Pak, kalau Bapak baca tulisan saya ini, saya cuma mau bilang kalau buku dari Bapak yang berjudul “Indonesia Bagian dari Diri Saya” karya Cak Nun masih tersimpan rapi di rak kamar saya. Terima kasih untuk selalu menyemangati dan menunggu dengan sabar karya saya. Semoga bukan cuma Bapak yang sudi menunggu dan membaca tulisan saya nantinya—

Mungkin tidak hari ini momen itu mengantarkan saya di puncak ekspektasi, tapi saya percaya satu momen itu adalah penyelamat, pembatas, sekaligus penjaga saat saya berpikir akan terjatuh pada banyak kekalahan hidup.

Jadi, pelihara satu momen di hidupmu yang bikin kamu tau cara lupa untuk jatuh dan menyerah, ya! 

Komentar